Maju Jadi Capres 2009: Yudhoyono Tetap Pilih Jusuf Kalla

Oktober 25, 2008 pukul 11:05 am | Ditulis dalam Prakiraan Politik | Tinggalkan komentar
Kaitkata: , , , , , , ,

Senin (29/9/2008) Jakarta – Opsi mengusulkan kembali duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla pada Pemilu 2009 sangat kuat di internal Partai Golkar. Namun, Partai Golkar memberi catatan agar Partai Demokrat mampu membangun hubungan berimbang, mampu mengikuti gerak Partai Golkar. Ketua DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu, Senin (29/9) pagi, mengakui wacana mendukung Yudhoyono-Kalla pada pemilu 2009 sudah lama berkembang. “Saya kira kalau Pak Susilo Bambang Yudhoyono ingin kembali didukung Partai Golkar, itu pilihan yang cermat. Pilihan itu sangat realistis,” tegas Burhanuddin Napitupulu. Kalaupun Partai Golkar memenangkan pemilu legislatif, kata Burhanuddin tidak harus mengajukan pasangan calon presiden sendiri. Persoalan akan lain kalau ternyata bisa menang pemilu legislatif di atas 50 persen. “Itu tak mungkin. Target Partai Golkar hanya 30 persen,” ujarnya.

Namun, Partai Golkar akan memberi catatan kepada Partai Demokrat selaku partai asal Yudhoyono. Partai tersebut wajib menjalin hubungan “kakak-adik” dengan Partai Golkar. Alasannya, Golkar memiliki infrastruktur yang kuat dan merata dibandingkan dengan Partai Demokrat. “Jangan seperti yang terjadi sekarang. Demokrat perlu memacu agar bisa mengimbangi langkah Partai Golkar,” tegas Burhanuddin. Sebelumnya, Minggu (29/9) malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengakui kalau dirinya akan maju kembali dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 mendatang. Siapa yang akan menjadi calon Wakil Presidennya (cawapres), menurut Yudhoyono sangat mungkin masih Jusuf Kalla, namun ini tergantung pada perkembangan dan dinamika yang terjadi di Partai Golkar maupun JK sendiri. “Setelah mendekati Pemilu menuju tahun 2009 ini, saya mempertimbangkan untuk maju kembali. Insya Allah, saya akan mencalonkan kembali sebagai capres (calon Presiden) 2009. Alasannya, saya akan bersyukur jika mendapatkan kesempatan untuk menuntaskan berbagai perbaikan dan perubahan ke arah positif. Kalau ditanya kapan, ya tentunya karena saya taat asas, taat aturan, akan saya sampaikan pada saatnya nanti setelah selesai pemilu legislatif, setelah April 2009,” ungkap Presiden. Lebih jauh, Yudhoyono mengakui kalau dirinya tidak risau akan diadang oleh adanya rencana menaikkan besaran syarat partai, yaitu 20-30 persen untuk dapat mengajukan capres. “Kalau saya fleksibel. Silakan saja mana yang dianggap tepat untuk memberikan persyaratan berapa persen sebuah parpol atau gabungan parpol bisa mencalonkan seseorang menjadi Presiden dan seseorang menjadi Wapres,” sahutnya. Peluang Pecah Besar Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf secara terpisah mengatakan, usulan mendukung Yudhoyono-Kalla pada Pemilu 2009 belum seragam di Golkar. Bagaimanapun citra pemerintahan sekarang cukup jelek di mata masya-rakat. Kenaikan harga BBM, persediaan gas yang langka, dan harga minyak tanah yang tak terjangkau masyarakat kelas bawah sangat mempengaruhi citra pemerintah saat ini. “Usulan itu membuka peluang perpecahan yang lebih besar di internal Golkar. Usulan itu belum putus, masih ada peluang Golkar mengusulkan pasangan lain,” kata Maswadi Rauf. Peluang menang pasangan tersebut, jika terwujud akan ditentukan oleh siapa yang menjadi lawannya dalam pemilu. Menurut Maswadi, jika Megawati bisa berpasangan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X, peluang Yudhoyono-Kalla cukup berat. Sultan, menurutnya, perlahan-lahan mampu menggali dukungan yang kuat di luar Jawa. Di internal Partai Golkar, ada empat opsi yang berkembang menghadapi pemilu presiden-wakil presiden. Pertama, berkoalisi dengan PDIP, kedua berkoalisi dengan partai-partai Islam, ketiga, mengajukan pasangan calon presiden sendiri dan keempat melanjutkan duet Yudhoyono-Kalla. Burhanuddin mengatakan, berkoalisi dengan partai lain tak mungkin dihindari pada pemilu 2009, namun akan diformat dengan lebih jelas dan tegas. Maswadi Rauf menambahkan melanjutkan duet yang ada sekarang lebih merupakan ego Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya, Senin (29/9), mengatakan, Yudhoyono dan Kalla memiliki karakter berbeda. Dalam beberapa kasus, publik melihat hubungan mereka tidak harmonis, karena itu menyatukan keduanya untuk kembali berpasangan pada Pemilu 2009, dinilai bukan yang terbaik. Menurut Bima, banyaknya pertentangan antara kedua pemimpin tersebut membuktikan perbedaaan karakter mereka, tidak bisa saling melengkapi. “Karena itu suatu pertaruhan besar, jika mereka kembali bersama,” ujarnya. Jika Yudhoyono memilih kembali berpasangan dengan JK, kata Bima, itu adalah cerminan karakter Yudhoyono yang cenderung bermain aman. “Dia bukan tipikal orang yang berani melakukan sesuatu yang baru,” tutur Bima. Dia menilai Yudhoyono adalah figur yang mengandalkan popularitas. Oleh karena itu, dia harus mencari figur yang didukung mesin partai yang baik. (dina sasti damayanti/inno jemabut/vidi vici) Copyright © Sinar Harapan 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.